SDA (SDA Asia Magazine): Bisa diceritakan bisnisnya Indosat M2 apa saja?
DR (Dede Rusnandar): Bisnisnya Indosat M2 saat ini fokus di internet dan multimedia. Internetnya yaitu akses untuk perusahaan atau corporate dan juga akses untuk consumer. Mulai tahun ini kita buat juga divisi untuk melayani small medium business. Saat ini juga kita juga sedang mengembangkan teknologi yang lagi tren di bank dan perusahaan yaitu IP VPN dengan teknologi MPLS. Misalnya digunakan untuk menghubungkan perusahaan induk dengan anak perusahaan atau cabang. Sebelumnya ada teknologi Frame Relay cuman agak mahal, maka dari itu untuk menghadapi era NGN (New Generation Network), orang lagi membangun jaringan yang berbasis MPLS, karena di atasnya bisa dipakai untuk berbagai keperluan misalnya untuk internet, seluler dan lain sebagainya. Infrastrukturnya nanti akan menggunakan WiMAX.
SDA: Apa beda MPLS dan Frame Relay?
DR: Frame Relay dulu sangat terkenal, kemudian datang MPLS, nah MPLS ini sangat efisien. Frame Relay ibaratnya seperti jalan three-in-one atau busway, jadi ada bis atau tidak ya jalannya kosong. Nah kalau MPLS misalnya gak ada pembagian seperti itu lagi. Di MPLS semuanya bisa diset secara otomatis, misalnya jalurnya digunakan untuk voice dan data. Pada saat jalur voice tidak ada trafik voice maka akan diisi oleh trafik data. Ini akan lebih jauh efisien karena kita tinggal set prioritasnya mana yang harus diutamakan. Misalnya kita ada bandwidth 128 kbps, dan kita bagi 64 Kbps untuk voice dan 64 Kbps untuk data, ternyata voice yang lewat tidak sampai 64 Kbps, maka ini bisa digunakan untuk data.
SDA: Bagaimana dengan jasa internet untuk consumer tadi?
DR: Kalau di consumer kita ada jasa internet dial-up dan melalui hotspot (Wi-Fi) milik IM2. Jika orang berlangganan dial-up maka otomatis juga username dan passwordnya bisa digunakan pada lokasi-lokasi hotspot IM2. Kita juga punya nomor nasional untuk dial-up nya dan ternyata dari kenyataan lapangan ternyata banyak pemakai di papua yang memanfaatkan jalur dial-up IM2. Ini sangat surprise sekali. Ternyata mereka membeli pre-paid IM2. Nantinya kami juga akan bermain di WiMAX untuk komunikasi data, tinggal menunggu lisensi dari pemerintah. Untuk pre-paid dial-up memang lebih mahal 10 rupiah daripada yang berlangganan. Indosat M2 juga melakukan investasi untuk pendidikan, jadi tarif untuk internet di perguruan tinggi sangat murah, terutama bagi perguruan tinggi swasta. Mereka tidak mengeluarkan uang sama sekali, IM2 yang menyediakan semua infrastruktur dan juga koneksinya. Minimal bandwidth yang disediakan mulai dari 256 Kbps. Begitu ada permintaan bandwidth yang tinggi maka secara otomatis bandwidth akan ditingkatkan, bahkan bisa sampai 2 Mbps. Sebagai contohnya, hotspot kita ada di Citos (Cilandak Town Square). Ada juga hotspot kami di Gran Melia Hotel yang pada saat itu kami susah sekali untuk masuk kesana. Tetapi setelah IM2 membuktikan kecepatan aksesnya, maka akhirnya hotspot IM2 hadir disana. Kami juga melakukan sosialisasi mengenai masalah hotspot ini kepada masyarakat. Bagaimana caranya? Kami sajikan website-website yang gratis misalnya Google, Yahoo!, GlodokShop, Bhinneka dan juga portal milik IM2 yaitu www.i2.co.id. Kami bekerjasama dengan MetroTV dan Media Indonesia untuk masalah content.
SDA: Bagaimana dengan tarif hotspot IM2?
DR: Untuk mahasiswa 5000 rupiah per jam dan pelanggan kena 9500 rupiah per jam. Itu tarif untuk pelanggan. Kalau bukan pelanggan, beli pre-paid akan terkena 12.500 rupiah per jam. Jika di perguruan tinggi akan kena 5000 rupiah per jam.
SDA: Bagaimana komitmen IM2 dengan dunia pendidikan?
DR: IM2 sangat membantu dunia pendidikan di Indonesia dan itu memang komitmen kami. Kami kerjasama dengan Intel untuk membangun infrastruktur dan akses internet untuk universitas. Universitas dalam hal ini tidak mengeluarkan uang sedikitpun. Intel datang ke universitas-universitas untuk memberi pencerahan mengenai teknologi kepada dosen maupun mahasiswa misalnya melalui seminar-seminar. Intel juga membawa perusahaan-perusahaan komputer di Indonesia yang bisa menyediakan komputer dengan harga yang murah bagi para mahasiswa dan dosen. Intel memang menjadi partner IM2 untuk mengembangkan koneksi internet di Indonesia. Hotspot IM2 di Indonesia semua diverify oleh Intel, karena mereka mensyaratkan mutu yang baik untuk kualitas aksesnya, seperti minimal bandwidth yang dibuka sebesar 256 Kbps. IM2 dalam menyediakan hotspot biasanya tidak dengan cafe atau tempat-tempat terbatas, tetapi biasanya dengan building atau area tertentu. Contohnya di Ciwalk Bandung dan juga di Cilandak Town Square atau Citos. Di Ciwalk yang seluas 4 hektar itu kami menyediakan hotspot dengan kecepatan tinggi.
SDA: Kembali ke hotspot. Banyak yang menggunakannya?
DR: Pengguna sudah mulai banyak. DI beberapa tempat sudah profit. Seperti di beberapa hotel di Bali sudah profit tetapi belum untuk di tempat publik. Di lingkungan universitas juga belum profit. Kami terikat kontrak dengan Intel dan juga dengan WBA (Wireless Broadband Association). WBA ini adalah suatu asosiasi broadband wireless dan IM2 adalah satu-satunya wakil dari Indonesia, bahkan holding Indosat juga belum. Anggota WBA ini banyak perusahaan telekomunikasi dunia seperti British Telecom, DOCOMO dan lain lain. Jadi kita komitmen buka akses Wi-Fi untuk setiap orang. Konsekuensinya apa? Semua pelanggan dari operator yang menjadi anggota WBA bisa akses ke jaringan IM2 juga, demikian juga sebaliknya. Kami juga ikut dengan jaringan Greek, ini adalah clearing house untuk akses internet. Jadi ISP yang bergabung dengan Greek maka pelanggan-pelangganya bisa menggunakan akses milik IM2, demikian juga jika pelanggan ini bepergian ke luar negeri dan menggunakan akses internet disana.
SDA: Bagaimana komitmen IM2 untuk wireless broadband connection ini?
DR: IM2 memang punya komitmen kuat untuk mengembangkan broadband wireless connection, untuk itu kami bergabung dengan WiMAX Forum dan kami merupakan satu-satunya operator yang bergabung kesana. Kami bergabung karena ingin lebih jauh melihat perkembangan WiMAX baik dari sisi teknologi dan juga bisnis. WiMAX Forum akan mengadakan konferensi di Canada dalam wakt dekat dan IM2 akan mengirimkan dua orang wakilnya ke ajang tersebut. WiMAX ini akan merubah peta bisnis telekomunikasi di dunia termasuk juga di Indonesia. Semua orang akan dibuat mudah dengan WiMAX ini. Kehadiran WiMAX akan membuat suasana seperti ketika GSM hadir di Indonesia. WiMAX chip akan dirilis pada akhir tahun 2007.
SDA: Bagaimana rencana WiMAX untuk Indonesia? Apakah sudah siap?
DR: Yang paling penting pemerintah harus mengeluarkan lisensi untuk WiMAX ini. Mereka harus menentukan frekuensi mana yang akan digunakan untuk WiMAX. Di luar negeri sudah ditetapkan, misalnya di USA misalnya menggunakan 2.5 dan di Eropa 3.5. Di Indonesia itu tidak bisa digunakan karena frekuensi 2.5 digunakan oleh IndoVision untuk memancarkan jasa TV dan 3.5 merupakan frekuensi extended yang digunakan oleh Telkom. Jadi pemerintah juga harus menentukan siapa yang boleh menerima lisensi ini.
SDA: Apa beda WiMAX dan 3G?
DR: Berbeda, karena WiMAX beberapa bagian masih menggunakan teknologi GSM. Perbedaannya, pertama WiMAX merupakan inisiatif dari group orang-orang IT sedangkan GSM merupakan produk kebanggaan dari orang-orang telekomunikasi. Ini membuat persaingan antara keduanya semakin seru. 3G menggunakan koneksi data melalui jaringan GSM dengan 2 Mbps secara share. Chip WiMAX akan dibuat secara masal yang nantinya akan bisa digunakan di banyak peralatan telekomunikasi, misalnya PDA, komputer dan juga telepon seluler. Ini akan menjadi teknologi yang bersifat open untuk semua orang.
SDA: Bagaimana dengan rencana IM2 dengan WiMAX?
DR: Saat ini orang bisa mendapatkan akses internet melalui beberapa cara misalnya melalui kabel, fiber optic dan wireless. Nantinya jika lisensi WiMAX sudah turun maka kita akan bangun infrastruktur, misalnya kita pasang WiMAX di BTS milik Indosat. Pada tahun 2006 mungkin bisa 10 sampai 30 kilometer radiusnya dan pesawat penerimanya sangat kecil. Pelanggannya sasarannya adalah corporate. Tahun berikutnya, harga dari penerima WiMAX ini akan sangat murah bahkan bisa nol rupiah. Ini ibaratnya seperti chip centrino yang ada saat ini. WiMAX ini juga bisa menembus gedung dan artinya sangat ringkas dibandingkan jika menggunakan kabel atau fiber optik.
SDA: Bagaimana dengan teknologi Wi-Fi dengan adanya WiMAX ini?
DR: Ini pertanyaan yang menarik. Wi-Fi jalan pada frekuensi yang tidak berlisensi yaitu di 2.4 GHz dan Wi-Fi punya jangkauan yang tidak begitu jauh. Maksimum sebenarnya yang diijinkan sekitar 100 meter. Misalnya di Citos saat ini sudah banyak Wi-Fi, nantinya jika sudah ada WiMAX maka disana hanya akan butuh satu penerima WiMAX dan akan diteruskan oleh Wi-Fi. Ini artinya Wi-Fi akan menjadi indoor unit bagi WiMAX.
SDA: Bagaimana dengan 3G? Berhubung Indosat juga menginginkan lisensi untuk 3G?
DR: Indosat adalah perusahaan holding kami dan fokus mereka lebih ke arah telekomunikasi. Sedangkan kami fokus di internet dan multimedia. WiMAX merupakan teknologi baru dan kita perlu mensosialisasikan kepada masyarakat. WiMAX jauh lebih murah daripada 3G karena jaringan sudah ada dan siap. Jaringan saat ini sudah berbasis IP. Dan kami tidak perlu lagi membangun infrastruktur baru seperti BTS dan lain-lain. Untuk menyalurkan bandwidth ini tidak diperlukan kabel lagi. Ini merupakan hal yang sangat murah, bandingkan dengan kabel yang harus melakukan penggalian di tanah dan perlu ijin yang tidak murah. Dengan adanya internet ini semuanya jadi murah. Yang Anda bayar hanya koneksinya dan jarak bukanlah masalah. Sebentar lagi kita akan masuk ke era baru dengan adanya IPv6, dimana nantinya semua benda bisa saja memiliki IP address. Jadi kembali lagi ke dunia wireless, maka semuanya akan semakin sederhana dan mudah.
SDA: Bagaimana dengan interferensi dari frekuensi WiMAX ini nantinya?
DR: Selama semuanya diatur dan sudah ditetapkan oleh pemerintah, maka tidak akan ada masalah lagi. Di Indonesia banyak terjadi interferensi karena penggunaan frekuensi tidak diatur dengan baik. Nantinya pemerintah akan memberikan lisensi ini kepada operator melalui proses lelang. Harapannya nantinya operator yang mendapat lisensi harus benar-benar punya komitmen untuk mengembangkan jaringan ini dengan lebih baik. Jangan sampai lisensi ini diperjualbelikan lagi oleh pihak yang mendapat lisensi tersebut. Ada juga vendor yang mengembangkan teknologi seperti WiMAX ini yaitu yang bernama WiBro. WiBro sedang getol-getolnya dipromosikan oleh Samsung. Samsung juga salah satu anggota di WiMAX Forum. Samsung juga saat ini menjadi vendor nomor tiga di dunia untuk teknologi seluler. Mereka sedang mengejar posisi Nokia saat ini. Nokia nomor satu di dunia untuk teknologi GSM.
SDA: Bagaimana dengan standar WiMAX ini?
DR: Mereka mengikuti standar 802.16e yang khusus untuk broadband wireless connection, sedangkan kalau Wi-Fi menggunakan standar 802.11. Untuk 802.11n merupakan standar untuk Super Wi-Fi.
SDA: Bagaimana dengan bandwidth yang dimiliki IM2 saat ini?
DR: IM2 merupakan ISP terbesar di Indonesia dari sisi bandwidth. Bandwidth kami sebesar 700 Mbps keluar. Itu redundan dengan satelit dan juga lewat kabel laut. Kabel laut kita pernah putus sehingga menyebabkan koneksi internet di Indonesia terganggu. Pelanggan Indosat juga ISP ISP di Indonesia. Selain itu IM2 juga memiliki data center di Ragunan ini, di Gedung Indosat dan juga di Jatiluhur. Itu bisa digunakan oleh bank atau perusahaan untuk melakukan outsourcing dari sisi infrastruktur. Untuk pelanggan corporate kami selalu menggunakan koneksi melalui fiber optik, sedangkan untuk small medium size business bisa menggunakan wireless.
SDA: Bagaimana dengan tarif dari jasa internet IM2 sendiri?
DR: Kami selalu berusaha dari waktu ke waktu untuk menurunkan tarif akses internet. Kami juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk interkoneksi karena wilayah di Indonesia yang perlu internet sangat luas sekali. Ini dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia atau Singapura.
Jika peralatan sekarang sudah ada Wi-Fi chip, apakah nanti jika ada WiMAX chip maka pada peralatan tersebut akan ada dua chip?
Wi-Fi chip akan diganti dengan WiMAX chip, tapi tentu saja dengan adanya teknologi baru ini masih tetap bisa mengadopsi teknologi sebelumnya. Ini sangat penting untuk kompatibilitas dari sistem tersebut.
SDA: Apakah IM2 sudah melakukan test dengan WiMAX ini?
DR: Kami sudah melakukan test terhadap WiMAX dalam hubungannya dengan jasa telephony ini. Kita coba hybrid akses dengan internet, jadi VoiP dengan kualitas yang sangat bagus. Kuncinya adalah bandwidthnya harus lebar sehingga kualitas suaranya sangat bagus sekali. Kebutuhan telepon dengan WiMAX ini akan sangat tinggi karena kualitasnya memang sangat bagus sekali. Jika semuanya sudah berbasis IP maka komunikasi telepon sifatnya borderless, jadi telepon kemanapun akan murah. Ini didukung juga dengan teknologi kompresi data yang memungkinkan data voice bisa dikompress dan bisa ditransfer melalui jaringan tadi dengan cepat.
SDA: Bagaimana dengan Blackberry?
DR: Blackberry sebenarnya ditawarkan oleh holding company kami Indosat. Itu merupakan teknologi push-email, dimana Anda bisa menerima e-mail seperti halnya SMS.






